Chrestomathy, 2008-2012 :)

30 Desember 2008


Yang Diam

yang diam yang merana di ujung jalan
memakai metamorfosis alam sebagai hutang
entah apa hutangnya, aku pun tak tahu itu.

yang diam mewakili sisi gelap malam
meniup hembusan bintang kelam
entah bintang apa itu, yang telah merasuki nyawaku.

yang diam menatapku suram
menatap hatiku yang tertutup debu

ia menangis di lorong waktu
entah karena apa itu.
namun aku bertanya-tanya dalam hati,
menangiskah ia karena hatiku tertutup debu?



rakyan widhowati tanjung










30 Desember 2008 
Nyanyian Itu 
nyanyian apakah itu?yang menggema pada kelam malamyang menggema pada petang kelam 
nyanyian apakah itu?kau tak perlu berbasa-basi, kawan.dengarkanlah suara itu,dengarkanlah kumandang surga itu,liriklah kemudi subuh yang membangunkan tidur malasmu. 
itulah adzan, kawan.nyanyian surga yang akan selalu membangunkan calon penghuninya.


rakyan widhowati tanjung










6 Januari 2009


Pada Secercah Cahaya 

Ia ciptakan dirimu sebaik-baiknya, Ia berikan jiwa kehidupan untukmu dengan indah-Nya, Ia biaskan warnamu dengan cahaya suci-Nya;

Ia melayakkan wujudmu dengan kemauan-Nya, Ia lagukan hidupmu dengan hati-Nya, Ia berikan kemampuan bagimu yang tiada dimiliki manusia;

ragamu memberikan pengertian bagiku, lakumu memberikan saat bagiku, katamu memberikan maksud untukku;

aku bercerita padamu, sebelum ruhku engkau berikan pada-Nya;

- engkau tahu, wahai malaikat!
diciptakanlah ragamu dari cahaya-Nya,
tanpa memberimu keburukan bagi seorang manusia -

tiada laknat bagimu, tiada beban dan sesal di pundakmu, tiada hina di wajahmu, tiada fatamorgana di matamu;

andaikan aku menjadi dirimu, yang kurasakan hanyalah kehangatan abadi dalam jiwa;

namun, akulah seorang manusia, yang atas izin-Nya kusyairkan bait-bait cerita untukmu, dan aku akan berkata;

- akulah yang diciptakan-Nya sedemikian rupa
yang mempunyai sebongkah hati untuk beradu mulut dengan makhluk-Nya
yang ada kalanya melihat iri dirimu,
tetapi aku bangga menjadi seorang manusia,
yang bisa merasakan manis pahitnya masa -



rakyan widhowati tanjung










6 Januari 2009 
Dan Hujan pun Berhenti 
dan hujan pun berhenti, tanpa meninggalkan bekas sunyi. aku pun tertatih-tatih merasakan rembesan hidup yang mulai pergi. tak sempat aku berdoa saat hujan tadi.



rakyan widhowati tanjung









22 Februari 2009


Sangkala 

aku berlari
aku berlari menghindari sangkala

aku pergi menembus waktu
aku pergi

namun, kutahu,
selamanya tiap detak jantung ini
adalah waktu bagi sangkala



rakyan widhowati tanjung










20 Maret 2009 
Menebus Nyawa  
Kapan kau buat jiwaku ini, terngiang menatap raga yang telah hampa? Kapan kucoba menebus nyawa yang kau buang dengan semena-mena? Diriku lemah, harus apa, dengan apa, diriku meleleh, tiada sanggup menebus nyawa...




rakyan widhowati tanjung










20 Maret 2009


Guruku Berpulang 

Belum setahun ini,
ia melihatku gagah berdiri,
menjinjing tas ke sekolah ini.


Belum setahun lamanya,
aku menjadi murid kelas tujuh A,
sudah menangis tersedu sedannya,
karena sang guru berpulang ke alam sana.


Oh, Pak Bardi,
sang guru yang senantiasa tersenyum rapi,
sang guru yang biasa tertawa hati-hati,
telah berpulang ke dalam istana ilahi.


Masih kuingat senyumnya,
yang tertinggal di relung jiwa,
dan tawa indahnya,
yang akan selalu diingat oleh kami, semua.




rakyan widhowati tanjung










11 Agustus 2009 
Balada Negeri Ilalang  
Pagi menggelar bentangan suryakencanaHilangkan kabut dari diriHilangkan rasa sunyi sepi 
Jangan coba hilangkan rasa ini!Kemerdekaan, kataku, himpunan cara kamiBerbaur, menyatu dalam kehidupan negeri ilalang siniMenyibak kerumunan rumpun-rumpun bambu berdiri 
Jangan coba hilangkan niat ini!Beri warna dalam negeri ilalang sini!Keluarkan rasa percaya yang terpendam lamaWujudkan cita-cita pusaka negara! 
Teriakan rasa gembira menggema di jagat negeriSaat dikumandangkannya titipan pahlawan,Ucapan merdeka dari tiap manusia,Mencapai togak kaki berdiri sendiri 
Oh, kita bukan negeri epigonTapi negeri mandiriSiapkan semangat,Berjuang keras,Hargai kerjaUntuk Indonesia



rakyan widhowati tanjung










16 September 2009


Mereka Telah Pergi 

satu persatu mereka pergi
hampa terasa dada ini
mereka menuju nirwana sunyi


mereka pergi
tinggalkan diri ini
tapi mereka tetap ada, hidup di hati ini



rakyan widhowati tanjung










9 November 2009 
Kita Terus Menunggu  
Apa yang ada dalam dirikuAdalah penantian kalbu 
Ruh dan jiwa yang terus menungguTermenung,Bukan apa yang harus menantiDikata coba,Tak bisa meraih diri-Nya 
Kita dekat, Kau tahuTapi bagiku,Kita jauh, hanya bisu 
Suara-Mulah kehidupankuKata-kata-Mu itu,Aku tahu,Menjadi tanda tanya besar di hatikuAdalah penantian kalbuku pada-Mu



rakyan widhowati tanjung










5 Desember 2009


Adalah Pohon Kehidupan 

Seperti bernafas
Adalah anugerah
suatu kehidupan
Harapan, tak terganjal
Apa yang diinginkan

Ialah serat-serat tersirat
Makna kibasan rindang

Walau ditebang
Tapi tetap tertancap
Tapi tetap tertambat
Akar bulir,
pertama.




rakyan widhowati tanjung










1 Februari 2010 
Biarlah Masa 
biarlah masamenaburkan semuanyamemberikan pengertianuntuk segala jawaban 
biarlah masamengaburkan yang lalutanpa perlu bertanya lagiapa yang musti kita kenang dalam angan 
biarlah masa, biarlah masa, biarlah masaterus berkembang dan nantinya berakhir



rakyan widhowati tanjung










20 Februari 2010


Penantian

saat kaulihat
daun-daun gugur dan ulat
menggeliat
sarang-sarang rubuh dan gerimis kilat
menenggak berkutat

saat kaurasa
ingin hati yang bicara,
bukan mulut saja
ingin mata yang menatap,
bukan wajah berharap

saat kaubimbang
bernafaslah dan teguk nuansa
kehidupan
berjalanlah dan lompati tegaknya
rimba raya

gelisah kini,
tak pandai berdiri
mungkin takut ditinggal pergi
dan kecewa karena terus menanti
yang tiada arti



rakyan widhowati tanjung










20 Februari 2010 
Saat
saat kau mengetahui sesuatupernahkah terpikir olehmumenyimpan atau membagihal itu? 
saat kau menginginkan sesuatupernahkah kau renungkan ituberguna tidakkahkemauanmu? 
dan saat kau merebutyang bukan milikmupernahkah terpikir tindakanmumenyakitkan atau tidak oleh mereka itu? 
jangan pernah merasakau begitu berhargakau hanya kemunafikanyang terus mengulang saja 
pikirkan dan pikirkan selaluapa yang kau rasabila kau dirinya?
cukupkah inisebagai paham bagimu?



rakyan widhowati tanjung










20 Februari 2010


Daun Buangan 

untuk: orang-orang buangan

saat yang lain didukung dengan meriah
dan tawa
aku dipojokkan dan dicaci
tanpa alasan mengapa

saat yang lain tersenyum dan berhasil meraih cita
dan dipuja, diberi yang pantas oleh mereka
aku dibuang,
tanpa rasa sesal dan dibiarkan membusuk bertangki lalat

saat yang lain mandiri dan semangat mengejar hidup
aku terkungkung
terkunci dan menangis
hanya bisa memendam benci

saat yang lain bisa menghirup atmosfer kehidupan
dan seluruh pori-pori jiwa mereka
aku hanya diam dan sesak yang tertelan
tanpa tanda udara kebebasan

apa inikah takdir?
tertulis jelas dengan lauh mahfudz yang menyindir,
aku,
betapa perihnya menjadi manusia tersingkir!



rakyan widhowati tanjung










21 Februari 2010 
Derai  
kepada alamkugelisahkan,seucap salamyang dinantikan 
kepada alamkuulur laju,renungan kelamyang terjepit lidah keluku
 

rakyan widhowati tanjung










24 Februari 2010


Kematian 

1

hilang dalam dekapan
menangkap semu sejatinya pahlawan
dalam genggaman,
sadar namun tak tertahan
bertemu rindu kematian

kusadar engkau benci padaku
tak rela diriku bersatu padamu
namun engkau tak tahu
apa isi kelam mataku
pendaran cahaya dalam kalbu
menguras dirimu
dalam rejam angkara pilu

apa itu dunia kecil, oh rama
apa itu hati umat, oh ibu
itu bukan tempatku
mungkin tempat ribuan nestapa
yang penting tiada angkara durja


2

hei, pencabut nyawa!
apa kau tahu,
inilah waktuku?
dan diriku akan lebur bersamamu?
menuju singgasana berliku?


3

saat aku melihat,
betapa kuat diriku
betapa masih hijaunya aku
betapa kehidupan juga panjang untukku

aku merasa,
bisa mengubah segalanya,
takdirku, masa depanku

namun saat kulihat
rentanya kehidupan orang-orang terdahulu
tua dan gerusnya generasi itu
dan kehidupan tinggal sejengkal, bagi mereka

aku merasa,
tak bisa kulawan waktu yang berlalu
tak bisa kuubah takdir, dan akhir

lauh mahfudz telah memimpin
mengatur alam semesta,
dengan sebuah kalam hakiki
menulis kehidupan dan kematian


4

renungkan satu saja
kematian,
pintaku

renungkan yang lainnya
kehidupan,
setelah kematian


5

saat kematian perlahan datang
kumohon,
pejamkan matamu
seraya ucapkan yang tak pernah terkabul dari doamu, dan
hiruplah nafas terakhirmu
maka tuntaslah, tak ada ganjalan pemberat di dirimu
lalu pergilah, dengan senyuman tersungging di bibirmu






rakyan widhowati tanjung










25 Februari 2010 
Meneguk Lembaga  
bukan untuk gersang. bukan untuk tandus. tapi demi kehidupan, sirene alun rindu. 
di semu abu, aku temukan: gersangan daun, mati lembaga. 
pun bukan tegukan, tapi kehancuran. 
pun bukan perbaikan, tapi merusakkan.



rakyan widhowati tanjung










25 Februari 2010


Hakiki 

ke mana pilihanmu?
di mana hakikimu?
aku menangis,
aku peduli itu.




rakyan widhowati tanjung










15 November 2010 
Waktu 
saat ini,
hanya mungkin rasa yang tercipta berbeda
tanpa jiwa, berakhir gemuruh senja
menghilang sebelum cipta

tangis pilu,
terdengar sendu
mencoba menghapus biru
dan hilangkan airmataku


kumohon waktu,
berilah aku jawabmu
dalam lara sepiku
biar pergi perih waktuku



rakyan widhowati tanjung










12 Desember 2010


Maaf

aku bukan sahabat sempurna
untuk dimiliki seorang perindu jiwa
aku bukan orang mulia
bukan pula orang terbaik yang ada

dan kini kumohon,
pintaku padamu duhai kawan
atas nama Zat Yang Ada
maafkanlah aku,
yang menusuk rajam ruang hatimu
yang menoreh luka tiada berperi dalam dirimu

maafkanlah aku..



rakyan widhowati tanjung










18 Desember 2010 
Nama 

aku mencari huruf dan kata
mengeja nama,
mencoba mengucap satu bait nada 
Dia,
menyebut-Nya bergetar angkasa hatiku karena-Nya
yang kujadikan pilihan,
tambatan ruang cinta
persemaian harapan dan noktah jiwa
 

rakyan widhowati tanjung










22 Januari 2011


Awal Terhempas 

biru itu,
terhempas sendu tampilkan sejenak rindu
senyapnya semu
dari noktah diri yang terbelenggu

hampa itu,
mengisi jiwa berpaut
menangisi diam terpaut,
perihnya dunia tiada lembut

sesaat masa ingin bercerita
tentang terlukanya sepi airmata
mengenai aroma dusta
yang dihembuskan oleh dunia

di mana Ia berada kini?
mungkin di hati, di nadi
menjagaku saat berlari kembali
mencari jejak nafas-Nya yang abadi



rakyan widhowati tanjung










25 Januari 2011 
Cerita Dunia 
inilah ceritajatuhnya airmatapada bumi manusiayang bergunung dosa 
nestapa dan deritapun juga tangisan jiwamenghantam sesak duniaapa guna tiada daya? 
hanya rumbai semerbak harapitu pun juga secuil yang terungkaptak bisa,tak bisa mengubah alam raya



rakyan widhowati tanjung










25 Januari 2011


Alunan Senja 

senja ini,
tertiup angin membiru
perlahan sepi
yang berikan sendu

aku bertanya pada diriku sendiri
kiranya aku menggumam arti
dan realita dalam caci maki
apa yang terjadi sekarang ini?

juga angin senja biarkan ucapan terlepas
tapi bukan aku, sungguh bukan aku
itu duri yang terlepas 
menggumbarnya, bukan aku



rakyan widhowati tanjung










27 Januari 2011 
Kutemukan Rasa  
Kutemukan senada anginBerbisik dan mengucap dalam sepiTentang bahagia cinta yang merasuk di hati 
Kutemukan seberkas barisan suryaMenyinar dan berpendar dalam jiwaTentang bulir air mata yang manis terasa 
Kutemukan setetes air surgaMembasuh dan menyegarkan aromaTentang tulus tanpa pamrih yang diramu nirwana 
Kemudian aku menemukan dirikuTersenyum dan tersipu dalam maluBersemai dalam kelopak peoni biru 
Aku merasa, aku merasaMenyelam di laguna asaMenyentuh langit tanpa batas di atas sana



rakyan widhowati tanjung










27 Januari 2011


Hati

apa ribuan kata mutiara
cukup mengambil pekerti mulia
tidak,
aku berujar tidak

apa butir-butir air mata
mampu menguras pendaman jiwa
tidak,
hanya kosong dan gersang rasa

apa rasa sakit dan bahagia
bisa memberi cukup nirwana
tidak,
itu tak bisa cukup memberikan semuanya

hanya satu yang bisa
ketulusan dan hati lapang
memberikan segalanya dalam hidup,
dalam liku-liku jalan manusia



rakyan widhowati tanjung










30 April 2011 
Ternyata Cinta 
ternyata cintaadalah sececap rinduyang berprahara kelabudengan nuansa birutersenyum di balik bibir yang bisu 
dan ia sendiri mengertiakan apa itu hakikidari rasa itu sendiri 
ternyata cinta, ia berjalan di tepi jiwa



rakyan widhowati tanjung










1 Mei 2011


Kepada Siapa 

Allah, Tuhanku
hanya Engkau yang mengerti nanar hatiku
dan perih jiwaku
serta luka nuraniku

kepada siapa lagi,
Ya Rabbi
aku hanyut menangisi
mengadukan gundah jalannya nadi

kepada siapa, Allah
aku meratapi kepedihan dunia
dan memohon ampunan akhirat nanti,
kalau bukan pada Engkau yang kumiliki?

hanya Engkau yang kupunya di dunia ini
hanya Engkau saja
pelita hati, saat hidup dan mati



rakyan widhowati tanjung










14 Mei 2012 
Pertaubatanku 
ini yang kupunyaair mata kering yang hampir binasatercekam gelapnya kesia-siaan duniabahwasanya aku berdiri terluka 
hanya dosa yang kubawadengan perenungan atas segala yang adadan gelimangan air mata penyesalan dadahanya dosa 
lalu kutadahkan hatiku pada-Nyakupasrahkan jiwaku untuk-Nyakumohonkan, kumohonkan keharibaan-Nyaatas ampunan segala dosa 
Ya Allah,zat yang maha pengampun lagi maha penyayangakankah Engkau, satu-satunya yang kupunya di dunia inimengampuni samudera dosa yang hamba miliki?



rakyan widhowati tanjung










16 Mei 2011


Di Jalan Masa 

entah apakah senja mengikuti masa
karena satu alasan dalam renungnya
yang tak kita tahu
itu benar atau tipu

di jalan itu pula semua berlalu
tanpa tanda-tanda jemu
hanya kesungguhan rupanya
dan  doa yang ada

di jalan masa.



rakyan widhowati tanjung










18 Mei 2011 
Ada Sebuah Kata 
ada sebuah katayang membuatku teringat dirinya 
ada sebuah katayang menyemaikan hati dalam jiwa 
ada sebuah katayang menjadi kenangan sepanjang masa 
ada sebuah katayaitu bunda, bersemi selalu di dada



rakyan widhowati tanjung










12 Juni 2011


Mengapa Harus Aku 

mengapa harus aku
yang jadi beban di hatimu
yang jadi luka di dadamu
yang jadi tetes air matamu

mengapa tetap aku
yang kau jadikan harapan
meski kau pun tahu aku adalah semu
yang lelah menjadi bayangmu



rakyan widhowati tanjung










12 Juni 2011 
Padang Mahsyar 
aku yakinnantidi alunan altar padang mahsyarkita diadilidi hadapan tuhan 
bukankah suatu kewajiban?mengaku dosa pada yang kuasa tak perlu ragu, atau pura-pura senduharusnya kita maluapa dosa yang mengakar di urat nadi itu 
kusiapkan iman, ucapkuharus, tanpa buaian semuagar nantiaku dapat memantapkan hati dan nyalidi alunan altar padang mahsyar



rakyan widhowati tanjung










13 Juni 2011


Rindu Pada-Mu 

apa yang harus aku rindukan?
apabila gersangku terempas angin malam?

kini aku tak mengerti ke mana
arah jalan binasa, binasa
oleh segala kata
mungkinkah aku tertebas masa?

sedalam-dalamnya hatiku hampa.
tak mengerti siapa yang pergi
mungkin aku sendiri yang acuhkan diri
di mana Engkau berada?

apalah diri ini
hanya sendiri dan tiada mempunyai,
pegangan untuk berlayar di dunia sini
sepi.

Tuhan!
aku mencari-cari nama-Mu
di dalam seluruh raga dan lubuk hatiku
serta denyut nadi yang kian menggebu

aku tak mau.
dan tak akan pernah mau.
apabila nama-Mu direbut yang lain itu.
karena sekarang aku mengerti, hanya Kau yang kurindui di bayang sepi

mengeja nama-Mu, bagiku
sebuah keberuntungan
yang aku temukan dalam sepi hidupku
dan cahaya penerang seruas pejaran kelabu

jangan tanya lagi!


apa yang harus aku rindukan?
apabila gersangku terempas angin malam?



rakyan widhowati tanjung

dengan serunai penghormatan










15 Juni 2011 
Anyelir 
bisakah aku berdiri,di gelapnya malam sepi? 
menghempaskan bau anyelir pagi tadiyang membusa-busa di nyeri hati 
tak tahu aku ini.bahwa rembulan telah membawanya pergi. 
tanpa basa-basi.tanpa pamit lagi. 
seperti apalah aku ini?mungkin awan, dihembuskan angin dan kemudian sendiri.



rakyan widhowati tanjung










20 Juni 2011


Mengerti

mengertikah, engkau?
satu hal. dalam hidup ini.
yang selalu hadir
dan tak pernah berakhir.

mengertikah, engkau?
kematian,
adalah yang hadir dan tak pernah berakhir
tapi ia tempat terakhir



rakyan widhowati tanjung










20 Juni 2011 
Untukmu Saja 
untuk apa?aku memberi rasa dalam noktah jiwa 
untuk apa?aku menjaga persemaian bait antara kita 
untuk apa?aku tersenyum mungkin menangis pada dirimu pula 
untukmu saja aku berisegala ucap yang bertebaran di hati 
karena ini,rasa sayang yang tiada pernah mati.



untuk ia, dalam tali persahabatan Ilahi. 
rakyan widhowati tanjung










22 Juni 2011


Pegangan Diri 

apabila bangsa ini adalah harapan
apa yang harus kami lakukan?
agar kami menjadi kepercayaan
tanpa menjadikan beban

tapi sudah, sudah kukira nyata
ini semua hanya cerca
yang mengiris hati tiada guna
tanpa mengingat semua yang ada

lalu bagaimana kami bisa mendaki?
apabila kami dihadang gunung yang tinggi
tanpa ada pegangan untuk berdiri
malah yang ada hanya caci maki



rakyan widhowati tanjung










25 Juni 2011 
Imaji  
ayo berlari,menghitung imaji di rimbunan awan sepidan gugusan bintang di bentang mimpitetap bersinar, tanpa henti 
jangan beri ragu untuk mengadu,secercah masa depan tanpa kelabujangan hanya mengangkat bahutanda tidak mengerti apalagi tahu 
di sana,di ribuan angkasa terciptahanya ada kitayang bisa meraihnya



rakyan widhowati tanjung










26 Juni 2011


Dengan Apa? 

mungkin sedikit sepi, menggetarkan relung hati
yang terombang-ambing dengan satu energi
tak dapat dicipta atau pun mati
dengan apa?

tak sukar di pikiran orang
nanti jiwa jadi meradang
penuh kerelaan tapi di pikiran,
tak jarang jadi guncangan

dengan apa?
biar pintu yang benar terbuka
tanpa igauan asa sia-sia
dan tanpa hati yang hampa terluka



rakyan widhowati tanjung










29 Juni 2011 
Kawan Sejati  
sampai tiba waktunya,aku menemukan duniayang berpraharakawan sejati yang nyata 
mengerti,saat ribuan kata kuucap hanyalah perih 
aku tidak sendiri.



rakyan widhowati tanjung










2 Juli 2011


Pada Bahasa Kalbu 

mungkinkah ini bahasa kalbu?
yang tiada dimengerti sebab ia tiada tahu
sedikit nyali, pada jiwa kering berdebu
dan dalam diam ia membisu

seperti rasa,
cokelat dan vanilla
bertabur dalam riangnya cinta penuh warna
diam-diam merasuk ke dada

aku pun tak mengerti.
dan tiada mengenyam rasa di hati.
akuku, tanpa basa-basi
padahal, sayang ini sudah diketahui

lalu dengan apa aku harus bicara?
kalau mulut dan hati saling berkompromi mendustakan rasa
di belaian nurani tercipta
untuk dirindu di belahan jiwa



rakyan widhowati tanjung










3 Juli 2011 
Kisah 
bila saja semua berakhir ceriatanpa ada air matabagaimana dunia bisa,berjalan semestinya? 
padahal kisah tak selalu sama.kisah tak selalu bahagiaagar semua bisa saling merasadunia sungguh berwarna



rakyan widhowati tanjung










3 Juli 2011


Mengejar Batas Mimpi 

di manakah angin bersandar?
apabila ia dimanja di pangkuan
di lepas ombak dalam buaian
nyiur pada genggaman

saat itu aku berlari
tanpa batas sepi
walau aku sendiri
tak rela, tenggelam saja dalam buai mimpi

mengejar,
agar bisa terlampaui
dan bukan hanya sebatas mimpi
atau angan yang tidak pasti




rakyan widhowati tanjung










4 Juli 2011
Bimasakti-Andromeda 
antara bimasakti, dan andromedaterseka ruang hampa udaradi dalamnya bintang, manis terasatertata rapi dengan segenap asa 
tanpa awan magellan, semogajadi penghalang antara merekayang kadang tak terpungkiri bagaimana jadinyajauhkan jarak bimasakti, ke andromeda 
karena penjuru langit menggenggam janjidi mana asteroid dan meteorid mengelilingitiap pendar jarak tahun cahaya suciantara bimasakti dan andromeda ini



rakyan widhowati tanjung










4 Juli 2011


Sementara Saja 

sementara saja,
aku mengikuti arah masa
di mana halauan kanan berada
aku di sana

sementara saja,
aku menjejak di atas raga
di bumi tempat mengadu cerita
dari lemparan dadu, hati berprasangka

hanya sementara
aku, tak selamanya



rakyan widhowati tanjung










10 Juli 2011
Karena Aku Mengerti 
karena aku mengertiada celah sempit, dari barat sampai ke ujung timur pertiwi, dihiasi samudra dan jangka pulau bestari 
apa engkau tahu? saat nyiur menebas rindu, di dalamnya ada polesan kalbu. pada tanah air terluka membiru...
karena aku mengerti. 
apa dasarnya yang terjadi di negeri ini....



rakyan widhowati tanjung










17 Juli 2011


Saatnya Tiba 

pada saatnya tiba
waktu akan memberi makna
yang dirasa di gundahnya jiwa
menekuri beberapa metafor lara

di bias-bias nestapa
yang dihiasi angkara durja
pilu-pilu nyata,
tiada semu seperti di dunia fana

jadilah sebuah perkara
yang datang tanpa diminta
tapi dituai karena manusia,
manusia yang menanam nestapa



rakyan widhowati tanjung










21 Juli 2011 
Dari Mana 
dari mana aku beradakalau bukan dari rahim bundayang menggenggam seluruh ragadari jiwa, dan sebuah nyawa



untuk kado ulang tahun ibunda tercinta 
rakyan widhowati tanjung










24 Juli 2011


Bukan Kata 

bukan kata sebenarnya bicara
tapi nurani yang tersedia
menjawab maksud sedemikian rupa
tanpa ejaan yang seharusnya ada

demikian itu namanya, jadi
perasaaan yang ingkar janji
tapi tuhan maha mengetahui
apa yang terbaik buat kami



rakyan widhowati tanjung










1 Agustus 2011 
Ramadhan 
sayup heningnya malamaku tambatkan bacaan kalamyang jadi perisai hatipenjaga diri, bukan hanya saat ramadhan kini 
tapi kali ini ramadhan kami. 
tak ingin cepat berlalu,agar atmosfer suci tak segera membisu 
ramadhan ini,selaksa penerang hatiku.

 
rakyan widhowati tanjung










20 Agustus 2011


Tujuh Pasal Nada 

1

dari mana hati berpasal
kalau bukan rindu berdatang
dari mana aku berasal
kalau bukan rahim bunda tersayang



2

langit bintang menawan
seperti apa pula induknya
jadikan ini tiada tahu
sekiranya Tuhan berkenan
ampuni bapa jauh dari-Nya
akan diri tak tahu menahu



3

terdapat terang di sisi kelam
tanpa berpegang pada genggaman
jangan tuan hanya menggumam
tanpa melihat pada kenyataan



4

dari mana aku berada
kalau bukan rahim bunda
yang menggenggam seluruh raga
dari jiwa dan sebuah nyawa



5

mengapa manusia selalu berkeluh?
padahal Tuhan tak pernah mengeluh,

akan manusia yang penuh dosa
ada, bara neraka di bawahnya

tapi Tuhan selalu memberi kasih
padahal manusia tak tahu berterima kasih



6

terdapat ragu, berisi sendu.
terdapat rindu, berisi pilu.




7

ada sebuah irama
di sisi medan cerita
mengatakan perasaan yang terselubungi
oleh bungkaman hati penjadi

tentang rasa, kiranya
seharusnya tak pernah ada
karena izzah lebih utama dijaga
hanya pada Allah rasa nanti jatuhnya



rakyan widhowati tanjung










25 Agustus 2011 
'Arasy 
bahwasanya di mana 'arasy beradadi situlah segala imaji tercipta 
dengan tanda tanya,bisakah kumelihat Tuhan di sana? 
untuk bersimpuh di hadapan-Nya,walau dalam diri terhampar dosa...



rakyan widhowati tanjung










29 Agustus 2011


Bang Fulan dan Zakatnya 

duh, penghujung ramadhan itu
antrian zakat fitrah mulai menggebu
di pinggir lapangan,
satu dua tiga.... puluhan

puluhan fakir
dan miskin dikumpulkan
berantrian. berantrian.

lalu ada yang namanya bang fulan
menggandeng adiknya
katanya,
"aku ini miskin."

hanya berdua saja
sudah ditinggal keduaorangtuanya
ke syurga, di atas sana

pak RT menggeleng-geleng, bergumam
"mana surat tandanya?'

"surat tanda apa, bapak?"
tanya bang fulan

"kalau kamu ini miskin,
miskin!"
dengan membentak

deg.

hati bang fulan merana
dan adiknya memegang perut,
yang ringkih menunggu buka
tanpa makanan apa-apa

"dik, kita tak punya
surat tanda kemiskinan kita
jangan berharap lebih ya dik,
kalau zakat belum jadi rezeki kita."

"bang,
sudah tak apa
biar pun mereka tak memberikan hak kita
yang dititipkan Allah semata

kita doakan pak RT ya bang.
supaya Allah membuka nurani
serta rasa kasih pada sesama
di hati pak RT ini."

akhirnya mereka pergi
menjauhi lapangan, menuju medan sunyi

sunyi.



rakyan widhowati tanjung










29 Agustus 2011 
Untuk Benar-Benar Ada 
lihatlah!serunai bijaksana jadi telaahdi mana altar pedoman tak hanya kisah 
haruslah mereka yang berfatwa,benar-benar terbukti adaapa daya kita ikutinya? 
hanya manusia,yang berpikiran samatak akan menyia-nyiakan waktu tersisa. 
untuk benar-benar ada.



rakyan widhowati tanjung










1 September 2011


Selepas Adzan 

selepas adzan,
setelah malaikat turun berdatangan

menunggu mulainya
iqamah sebagai permulaan.
dari pertautan raga
dan jiwa pada sujud-sujud di hadapan

di hadapan-Nya.

segera, jangan kau tangguhkan pula waktu
padahal kau tiada tahu
saat akhirnya pilu,
tak dapat kembali, hanya kelabu

semu.



rakyan widhowati tanjung










2 September 2011 
Antara Mereka, Kita dan Penguasa 
seperti apa,saat membedakan peminta-minta dengan pengamen sajakita tak mengerti bahwaada hal yang sama antara mereka 
membutuhkan kita, 
di samping janji para penguasatertuang dalam undang-undang empat limamenyatakan pada kiranya,ditanggunglah mereka semua 
ada hal pula untuk ditanya,mengapa?bahwasanya negeri ini terluntaterluka dalam igauan asa 
akan perih dicampakkan penguasa,yang belum bisamengejawantahkan hakikat manusiaagar sejahteralah nestapa jelata



rakyan widhowati tanjung










21 September 2011


Spektrum Asa


Dari ekliptika, membujur elips di sudut mata
Beruraian konstelasi rasa
Tertata, layaknya vorteks di jiwa
Jadikan paralaks asa pada manusia

Meraih dengan kalibrasi tinggi
Meranah bias energi ionisasi
Tanpa harus adanya presisi
Serta cita tiada perah beranomali

Diramu, menyertai radian cahaya
Berdimensi massa dalam gema frasa
Labuhkan pada bayang supernova
Bernoktah pendaran alpha centauri, sempurna

Metafor parafrasa librasi
Kadang asa jatuh dan berpresitipasi
Ingatkan akan datangnya regresi,
Kepada Tuhan, spektrum asa kembali






rakyan widhowati tanjung










29 Oktober 2011 
Pada-Nya 
Lalu bagaimana, apabilaRasa yang kujalin pada-NyaTerhempas di lautan samuderaTergulung dibuai masa 
Renungi! 
Bersimpuh diriku meminta-NyaMemberiku maknaHarapan nur cahayaAkan rindu naungan-Nya 
Kutafsirkan akan dosaYang menggema bersuaraTapi Ia membisikkan cintaSerta lindungan dan ampunan-Nya 
Akan dosa. 
Dan pada jalan-Nya,Selangkah kaki kujalaniSeribu langkah-Nya,Untukku Ia memberi



rakyan widhowati tanjung










29 Oktober 2011


Al Qiyamah 

tak ada yang mengerti,
kapan bumi berhenti.

isyarat alam kadang tak pasti,
jiwa pun belum jua siapkan diri.

bagaimana bila tiba-tiba terjadi?
bumi terkoyak menebarkan api
segala musnah tiada abadi
dan raga pun terhenti

lalu tinggallah sejengkal jarak dari mentari,
padahal, kita tiada siap dalam diri



rakyan widhowati tanjung










31 Desember 2011 
Sampaikan Salam di Ujung Senja 
Senja,adalah kata yang tersisaDarinya terdapat makna,bagiku, tak biasa 
Dalam senja,tertuang lepas mentariBerusaha bersembunyi,di tepi horizon bumi 
"Ini garis-garis maya,di mata kita." 
Dalam senja,lambat laun jadikan sunyi,akan suaraDan senyum tipis,tanda berpisahnya cahaya 
"Ini hanyalah awal,dari pergantian waktu dengan rotasi bumi." 
Dalam senja,Redupnya cahaya adalah primadonayang jadikan bintang sebagai mahkota,di langit selepas senja 
"Ini adalah sang kala,tersaji dalam tiap masa..." 
Dan kusematkan tanda kutip bersama-Mu,berisi sisa-sisa kata dari-Mu. 
Selepas ini, selepas ini,kusampaikan salam di ujung senja, pada-Mu...



rakyan widhowati tanjung










17 Januari 2012


Label Jiwa 

Ini  hierarki manusia.


Yang diagungkan oleh rasa,
tanpa kecupan makna
Diartikan oleh masa


Dan jiwa mempunyai,
sekapur aroma berbeda.
Di mana Tuhan menciptakannya
Dengan serpihan nurani, tak sama



rakyan widhowati tanjung










22 Januari 2012 
Seroja
Mula-mula,ada satu kataKemudian dua,dan seterusnya. 
Perlahan mulai merajut cerita 
Tak perlu kau pahami,atau berpikir keras-kerasKalau pada akhir nantisegala akhir selalu pasti. 
Di sini, mulailah seroja kembang bertaut makna 


rakyan widhowati tanjung 










23 Januari 2012


Ego, di Hamparan-Nya 

Sekiranya, ego manusia
berfluktuasi dalam iringan,
kehidupan.

Tapi mengapa tiada pernah,
mencoba bersandar pada kematian?

Di mana setelahnya,
ego jadi saksi
Akan apa yang berlaku di hamparan fana

Seperti pula sekiranya kau berkata,
"Itu takdir."

Tapi nada hina kau timpakan pada takdir.

Dan lauh mahfudz kau katakan nyinyir.

Untuk apalah kau hidup, manusia!
Kalau pada suratan Tuhan,
yang ditulis qalam-Nya
kau tak percaya...

Dan dosa,
kau persembahkan untuk-Nya
saat Ia beri regukan nafas indah,
yang tiada kau syukuri sudah.



rakyan widhowati tanjung










9 Februari 2012 
Pelataran Hati 
"Ibu,aku ingin menatap mata kasihmuyang ketika kau timang aku duluterlihat beningku di situ." 
"Ibu, ibu." 
Satu, duaAir mataku menetes karenanyaDi tiap waktu bersama bunda adalah,masa luar biasa 
Lalu tiba-tiba,hatiku berbisik mesra, 
"Anak Adam dan Hawa,jadikan aku pelataran hatiakan cinta dari sanubari ibu." 
Selalu.



rakyan widhowati tanjung










12 Februari 2012


Tuhan, Berkahi Kami 

Kepada Tuhan, manusia meminta
"Tuhan, berkahi kami."
Setiap waktu dan setiap saat.


Tapi manusia tak ingin berusaha
Hanya diam dengan bisikan doa-doanya


Padahal,
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."*



*(QS 13:11)


rakyan widhowati tanjung










4 Maret 2012 
Karbala 
Di bawah Makkah dan NajafKarbala pernah tersimbah darah,para syuhada 
Tak gentarMenghunus regukan rindu,untuk-Nyadi mana malaikat menangis haru 
HusainHusainHusain 
Iman cahaya imam duniaPara malaikat melihatnya, bergumam"Karbala, di sini engkaulah saksijatuhnya darah Husain untuk-Nya." 
Karbala,Jadilah engkau sejahtera.



rakyan widhowati tanjung










14 Maret 2012


Percayakah Kamu Pada Mimpi 

Satu, dua
Mentari menyusup di balik rasa
Membuka seketika dunia fana,
menuai tabir dari mimpi dan asa


Tiga, empat
Lima, enam
Tujuh, delapan
Sembilan, sepuluh


Percayakah kamu pada mimpi?
Antara masa yang kau rancang hati-hati,
dengan bayangan waktu terpantul diri
Sebelasnya, kau bisa menggapai mimpi






rakyan widhowati tanjung










15 Maret 2012 
Kalau Perlu 
"Kalau perlu,putuskan sajaUrat-urat nadi pemberontak itu.Negara tak butuh mereka." 
"Kalau perlu,binasakan sajaMereka yang menentang,rezimku ini, maha karya." 
Satu, dua ucapan dengan jedaLalu prajuritnya,mendengar dengan khidmatMematuhi sabdanya 
Tiga, empat bencana negaraHasil rekayasa,diktaktor negaraDi suatu bangsa, suatu masa.



rakyan widhowati tanjung










19 Maret 2012


Sonata Perdu 

Perdu,
Perdu
.
Bagaimana kau yakin,
ini tempat singgahnya angin?
Yang menggilir syair
Sampai semak-semak hilir?


Lalu angin membiaskan suara,
"Ada rindu pada sonata
Menggerus ilalang perdu,
di mana hatinya tercipta."


Sejenak kau pun yakin, ini sonata...
Perangkai keping-keping cahaya
Di mana tak bisa
Dunia ungkapkan narasi penyair.



rakyan widhowati tanjung