The Faith :)

Iman.


Keimanan.


Iman, sebuah frasa di mana akan terasa luar biasa, terhadap manusia yang memilikinya, merasakannya, dan mengamalkannya. Saat itulah keimanan disebutkan. Di dalam iman terdapat ketaqwaan, yang menjalar pada  kerendahan hati dan akhlak yang terpuji pada Yang Maha Kuasa, Rabbul Izzati.


Iman ialah hal paling berharga, yang tak terbeli. Tak juga dapat diwariskan. Masihkah kita ingat pada kisah Qabil? Nabi Nuh? Nabi Luth? Nabi Ibrahim?


Qabil, anak Nabi Adam, menjadi manusia pertama yang durhaka pada ayah dan Tuhannya. Anak Nabi Nuh, tetap saja membangkang dan tidak beriman pada Rabbnya. Istri Nabi Luth, mengkhianati titah suaminya untuk menjaga diri dari azab Allah. Ayah Nabi Ibrahim, tidak serta merta mengikuti petunjuk anaknya, yang telah memiliki keimanan luar biasa pada Ilahi Rabbi.


Hanya ada satu cara menggapainya. Buka mata, hati dan telinga, untuk menerima bulir-bulir nur hidayah-Nya. Dalam perjalanannnya, terimalah iman dengan lapang dada dan penuh rasa syukur. Beristiqomahlah! Sebagaimana,


عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
(رواه مسلم) 
Dari Abu Amr, -ada juga yang menyebut Abu Amrah- Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi r.a. berkata, "Wahai Rasulullah, katakan kepadaku satu ungkapan tentang Islam, yang saya tidak memintanya kepada seorang pun kecualipadamu." Rasulullah saw. bersabda, "Katakanlah, 'saya beriman kepada Allah,' kemudian beristiqomahlah (berpegang teguhlah)." 
(HR Muslim)


Jagalah iman itu dengan beristiqomah, karena, Rasulullah saw bersabda,
مَثَلُ الْقَلْبِ مَثَلُ رِيشَةٍ بِأَرْضِ فَلاةٍ ، يُقَلِّبُهَا الرِّيحُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ
"Perumpamaan hati adalah seperti bulu di tengah padang pasir yang dibolak-balikkan oleh angin." (HR Ibnu Abi 'Ashim)
Mengapa demikian?
Ingatlah bahwasanya sifat-sifat syaitan selalu berusaha untuk membisiki kalbu (hati) manusia. Menyusupinya dengan nafsu dunia. Dengan kemaksiatan. Dengan kemunafikan. Dengan kemusyrikan. Dengan kekufuran.


Padahal,
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar Rahman 55:13)
Saat syaitan menelisik hati manusia, saat itulah ia diuji keimanannya. Agar manusia berpikir, ke arah manakah sebaiknya hati berlabuh?


Berlabuhlah pada keistiqomahan hati. Sungguh, berdoalah kepada Allah, dengan lemah lembut dan penuh keikhlasan,
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
(Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." (QS. Ali 'Imran 3:8)
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى 
"Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu hidayah, ketaqwaan, penjagaan diri, dan hati yang merasa cukup (kecukupan hati)." (HR Muslim)
Bahwasanya Allah maha membolak-balikkan hati manusia, dan menuntun mereka pada hidayah dan iman umat-Nya. Beriman, kemudian beristiqomahlah di jalan-Nya :)