To Remember :)



SEORANG TUKANG RAMBUTAN PADA ISTRINYA

*oleh: Taufiq Ismail


“Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan datam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka
Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
Biarlah sepuluh ikat juga
Memang sudah rezeki mereka
Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan
Seperti anak-anak kecil
“Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutan!”
Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya
Dan ada yang turun dari truk, bu
Mengejar dan menyalami saya
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
“Terima kasih, pak, terima kasih!
Bapak setuju karni, bukan?”
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
“Doakan perjuangan kami, pak,”
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima kasih mereka
“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”
Saya tersedu, bu. Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita.
1966







METAFORA RUMPUT 
*oleh: D. Zawawi Imron 
Yang paling sepele adalah rumputyang terinjak di sudut lapangan ituOrang yang punya sepatu tidak merasa bersalahdan merasa tidak bersalah
Di jalan becek yang tak berumputorang itu tergelincir dan robohYang tidak sepele barangkali kebersamaan rumputTapi orang itu tak merasa bersalah
Orang itu lalu menuduh hujan, lalu TuhanUntung rumput tak bisa tersenyumtak bisa menari








EMPAT AMANAT HUJAN


*oleh: Syarif Hidayatullah


1.
Merintik-rintik air membahasi waktu
redam resah di pangkal rindu
merapal-rapal nama-Mu getarkan kalbu
malam basah sungguh penuhi mataku yang rapuh

2.
Dinginmu mengirim aku pada gigil Himalaya
kaki-kakimu tajam merajam segala raga
manakah hati ini tak getar merapal doa
jika Kau tusukkan kuasamu yang maha

3.
Jalan-jalan sudah basah seperti pasrah mencintaimu
awan sedih telah pergi bersembunyi di sebalik perih
sepi berserakan di rumah yang melahirkan rindu
dan Kau selalu terselip di dalam puisi

4.
Adalah sungai yang menghantarkanmu pada muara
di sanalah puncak sujudmu menjadi kasidah
adalah jemari angka yang memisahkan kata dari penyairnya
sedang aku tak memiliki pilihan lain untuk jadi tanah








IBU  
*oleh: D. Zawawi Imron 
kalau aku merantau lalu datang musim kemarausumur-sumur kering, daunpun gugurbersama rantinghanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir
bila aku merantausedap kopyor susumu dan ronta kenakalankudi hati ada mayang siwalan memutikkan sarisari kerinduanlantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
ibu adalah gua pertapakudan ibulah yang meletakkan aku di sinisaat bunga kembang menyerbukkan bau sayangibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumiaku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samuderasempit lautan teduhtempatku mandi, mencuci lumut pada diritempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauhlokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagikukalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawannamamu, ibu, yang kusebut paling dahululantaran aku tahuengkau ibu dan aku anakmu
bila aku berlayar lalu datang angin sakalTuhan yang ibu tunjukkan telah kukenalibulah bidadari yang berselendang bianglalasesekali datang padakumenyuruhku menulis langit birudengan sajakku









AKU SEAKAN MENGERTI


*oleh: D. Zawawi Imron

Laut itu, angin itu dan langit itu
Seperti tak mengenalmu
Awan jatuh menyapa kemudi yang lugu
Kuingat nasihat guru
tentang jerat di ladang derkuku
Aku bisu, sebuah kenangan jauh memburu


Bulan itu, ufuk itu dan malam bisu
Antara aku yang bisu dan malam yang bisu
Seratus kata menderu
Siapa yang memanggilmu?


Aku seakan mengerti
Ada takdir membuat arah tidak menentu
Tapi siapa yang tahu, di balik yang lahir
Ada yang menyebutku dalam selarik lagu
Ada yang menyorotku dengan mata seribu









BALADA IBU YANG DIBUNUH 
*oleh: WS Rendra  
Ibu musang di lindung pohon tua meliangBayinya dua ditinggal mati lakinya.
Bulan sabit terkait malam memberita datangnyaWaktu makan bayi-bayinya mungil sayang.
Matanya berkata pamitan, bertolaklah iaDirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan harian atas nyawa.
Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desaMenggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.
Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tibaOleh lengking pekik yang lebih menggigitkan pucuk-pucuk daunTertangkap musang betina dibunuh esok harinya.
Tiada pulang ia yang mesti rampas rejeki hariannyaIbu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur pula dedaun tua.
Tiada tahu akan meraplah kolik meratap jugaDan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin tenggara
Lalu satu ketika di pohon tua meliangMatilah anak-anak musang, mati dua-duanya.
Dan jalannya semua peristiwaTanpa dukungan satu dosa, tanpa.








IN MEMORIAM : verse: L

*oleh: Alfred Lord Tennyson

Be near me when my light is low,
When the blood creeps, and the nerves prick
And tingle; and the heart is sick,
And all the wheels of Being slow. 

Be near me when the sensuous frame
Is rack’d with pangs that conquer trust;
And Time, a maniac scattering dust,
And Life, a Fury slinging flame. 

Be near me when my faith is dry,
And men the flies of latter spring,
That lay their eggs, and sting and sing
And weave their petty cells and die. 

Be near me when I fade away,
To point the term of human strife,
And on the low dark verge of life
The twilight of eternal day.














:)