Menuju 10K Pertama!

kegiatan apa ini tebak :3

Perlu waktu yang lama bagi saya untuk menyadari bahwa gaya hidup sehat tidak dapat lepas dari berolahraga. Tentunya, secara pribadi pun saya merasakan bahwa terdapat keterikatan di antara dua hal tersebut. Boleh dibilang, saya orangnya gampang sakit, baik fisik maupun psikologis ketika tidak melakukan olahraga. Dan di semester dua menuju tiga perkuliahan, saya merasakannya :(

Sakit apa? Ya pokoknya begitu lah, hehe, seperti yang saya katakan di atas tadi. Saat itu saya masih berpikir bahwa hanya dengan diam dan beristirahat saja seseorang bisa sembuh dari penyakitnya. Tapi tapi tapi, ternyata pikiran saya salah. Justru dengan melatih fisik secara perlahan, tubuh bisa merasakan 'terapi' untuk menyembuhkan lukanya, jasmani dan rohani.

Saat itu pula bertepatan dengan liburan semester ya. Anja yang sedang libur dan pulang di Jogja pun pelan-pelan mengajak saya joging dan lari (hobinya dia itu lol). Awalnya, saya ya aras-arasen banget untuk work out. Saya masih ngedumel, "Yaampun badan bengek, pikiran kayak gini, ngapain sih olahraga". Lari pertama, jaraknya sekilo. Udah ngos-ngosan dan darah rendahnya kumat, lol. Lanjut dua hari kemudian, lari satu setengah kilometer. Masih aja darah rendah kumat dan sesek. Lanjut dua hari kemudian, lari dua kilometer. Masih agak pusing-pusing gitu.

Minggu depannya, lari lagi, mulai bisa lari tiga kilometer. Udah nggak kumat-kumatan darah rendahnya, justru pikiran mulai segar dan merasa lebih kuat ngehehe. Nggak sesek juga. Badan mulai bisa merasakan 'terapi' dari berolahraga. Secara fisik dan psikologis, saya mulai lepas dari beban sakit dan pikiran. Lantas, mulai merasakan ketagihan dari berlari :D

Baru tiga minggu lari, kok ya dirasa saya butuh suatu pencapaian. Beserta tantangan. Kalau lari-lari doang rasanya kok kurang gimana gitu ya. Terus saya mulai kepo jadwal event-event race di DuniaLari.com dan wow! Banyaaakkk banget gilaa race-race lari setiap tahunnya. Akhirnya, saya mencari event race terdekat dan jarak yang masih bisa dimungkinkan untuk dicapai. Dapat, BNI Javaprime 10K 2017 di tanggal 26 Februari, Malang.

Saya lantas berkonsultasi ke Anja, maklum dia sudah race berkali-kali di beberapa jarak lomba yang berbeda pula. "Mas kalau ikut ini gimana yah? Pengen rasanya ikut race," terus saya diceritain deh pengalaman pertamanya Anja 10K dulu sekitar dua tahun yang lalu di Jakarta Marathon. Yaaaa....... Udah pokoknya saya ikut meski kalau pertama kali kayak berat gitu katanya, demam panggung juga wkwk

Posisi itu saya mendaftar pada pertengahan Januari, yang berarti saya hanya punya waktu sekitar lima minggu untuk menyiapkan 10K dan sekaligus race pertama saya. Ya ampun, selama lima minggu itu saya deg-degan banget, soalnya biasanya di race jarak pendek (5K-10K) itu dibuat 'latihan' oleh pelari-pelari long run. Ya kebayang gimana nanti di race bakal ketinggalan gitu dah wkwk.

Anja bilang, saya harus bikin target. Oke, cut of time panitia sekitar 2,5 jam. Saya membuat target harus selesai race kurang dari 1,5 jam. Omg. Nekat banget lol. Lol. Saya latihan setiap hari... sampai cedera. Ya, saya terkena shin splints, semacam cedera di otot tulang kering yang membuat otot kaki kayak kewer-kewer dan kalau menapak gitu rasanya mau runtuh :') fyi, ini cedera yang biasanya dialami pelari newbie! (Soalnya pelari newbie tu suka ketagihan lari gak mengenal waktu, kayak saya lol). Ohya, berikut ini saya melampirkan daftar latihan saya dimulai pada bulan Januari (sebelum daftar race) hingga menjelang hari H race:

Januari 2017
latihan persiapan lari 10K bulan pertama
 Februari 2017
latihan persiapan lari 10K bulan kedua

Sampai seminggu sebelum race, saya masih cedera. H-3 race, sakitnya justru menjadi-jadi. Untunglah, ketika saya sampai Malang, saat itu saya ditemani Mbak Isna, temanku mahasiswa UPN Jogja, sakitnya udah mulai berkurang.

racepack lari. ada jajanan dari sponsor,
BIB number, dan kaos race
Jumat malam tanggal 24 Februari, saya dan Mbak Isna naik kereta otw Malang. Sampai sana Sabtu pagi, dan langsung nyewa motor dekat Stasiun Malang ke penginapan dekat tempat race, Ixora Valley Kota Araya. Sampai penginapan, kami bergegas mengambil racepack lari di Hotel Horison Araya.

Setelah itu kami berdua istirahat sebentar dan mencari makan. Saya juga harus carbo loading sih sebelum lari. Carbo loading itu adalah sebuah istilah di mana kita mengisi 'bahan bakar' ke tubuh kita sebelum berlari, karena saat berlari itu tubuh meskipun membakar lemak tetapi lebih mudah mengambil energi dari karbohidrat yang baru terisi ke tubuh. Biar ototnya enggak kaget juga. Cuma, akhirnya kebanyakan makan lol :(

Setelah itu, sore harinya kami melihat race, dan panitia masih menyiapkan umbul-umbulnya sih. Ternyata, race lari benar-benar full di atas jalan batako :( duh pikir saya, kaki bakal mlonyoh nih haha. Tambah deg-degan :(

Malamnya saya susah tidur. Padahal ga boleh loh, kalau mau lari tapi kurang tidur. Karena jatuhnya kita bakal capek banget dan otot jadi lelah. Akhirnya saya hanya terpejam sekitar empat jam, dan pukul empat pagi saya sudah otw ke tempat race.

Sesampainya di sana, sudah rameee banget. Ada bulenya juga banyak. Ada atlet-atlet lari yang udah pro. Ada juga yang masih newbie kayak saya. Ada juga yang masih SMP dan bahkan SD pun ada. Saat itulah saya berpikir, kenapa saya tidak lari dari dulu ya? Hehe.

Pukul 5.30 pagi race dimulai, dan maklum demam panggung, 10 menit sebelum race saya masih antri di toilet, lol. Kebiasaan setiap pelari gitu sih, bakal ngerasa pengen pipis terus sebelum race. Nah, saat race dimulai, gilaaaa yaaaa orang-orang larinya pada kencang banget. Saya pun terpacu jadi kencang juga. Padahal sebelumnya Anja sudah mewanti-wanti, kalau race biasanya orang-orang pas jarak awal dimulai suka kencang-kencang dan jangan sampai saya terpacu nanti takut ototnya kaget. 

Tapi saya tetep terpacu gimana dong? Hasilnya, di kilometer ke tujuh kaki saya kram, berasa udah mau pingsan lol. Cederanya juga mulai nyut nyut-an. Saya tahu, ini akibat karena saya mulai berlari kencang di atas pace latihan yang hanya 7-8, menjadi pace 6-5,5 (pace adalah tingkat kecepatan berlari, semakin rendah angka pace, semakin kencang larinya), sehingga otot dan badan 'terpaksa' dan saya paksa untuk menyesuaikan. Duh Gusti, saya berdoa saja terus semoga engga kolaps. Ngga lucu dong, sudah jauh-jauh ke Malang masak saya nggak bisa menyelesaikan 10K pertama...

Akhirnya saya lari kecil sambil menahan semua rasa sakit di badan. Ayo saya pasti bisa. Kan udah latihan lama. Saya pasti bisa. Ini baru titik pertama, jangan sampai kalah sama diri sendiri. Ini belum garis finish, dan enggak ada garis finish. Garis finishnya ada ketika saya mengalahkan kelemahan diri ini. Saya harus bisa mengalahkan rasa sakit dalam diri! Saya terus menerus mensugesti diri saya di tiga kilometer terakhir. Bismillah, bismillah, saya bisa. Harus bisa 10K!! Gimanapun keadaan saya, harus mampu!

Dan akhirnya....





Lewat aplikasi tracking Nike Run Club, total racenya: 11,24 kilometer dalam 1 jam 18 menit. Alhamdulillah, saya bisa mengalahkan ego saya, rasa sakit saya, dengan semua usaha diri sendiri. Saya bisa mengalahkan kelemahan dari dalam diri saya :)

"Because strength grows in the moments when you think you can't go on but you keep going anyway"- Anonim



Comments

Popular Posts