Sunday, 24 March 2013

Lazuardi Rindu

- Teruntuk Anselina Dwi Faerita Zai


Langit,
Kuceritakan padamu
Tentang luka dan nyala rindu
Pada kejora yang tertinggal di relung hatiku

Di senja kelabu
Masih kuingat perihnya itu
Yang tak pernah ia keluhkan padaku
"Tak apa," katanya, "Tak usahlah kau hiraukan aku."
Sembari menggenggam jemari tanganku tanpa ragu
Dan tersenyum, meneguhkan pikirku

Meski mega-mega mendung jadikanku ragu
Aku percaya, ia bertahan menawan pilu
Aku percaya, ia kuat melawan sendu
Hingga Tuhan tersenyum dari lazuardi putih biru
Melihat kejoraku, Ia tertegun oleh kuat rona jiwanya itu
Maka Tuhan mengasihinya, ingin segera bertemu

Rasanya getir, Langit.
Melihat Izrail menggugah sembilu
Memisahkan dunianya menuju
Keabadian terindah, tanpaku

Kau tahu, Langit,
Serasa semesta padamkan terangku
Mereguk gemuruh di ubun mega nafasku
Mengurai jerit tertahan dalam dadaku

Kejora itu,
Terkasih-kasih dalam hidupku
Teramat sayang dan membiusku termangu
Padanya, pelita asa berkepundan narwastu

Kepergiannya mendahuluiku
Untuk kembali pada-Nya itu
Membawaku pada kembara pilu
Di perbani pasang pelabuhan semu

Langit,
Sekarang kau tahu
Betapa luka ini menyeruak membiru
Betapa rindu ini meluas melagu

Langit,
Kumohon, atas nama seroja nestapa rindu
Tekurkanlah padanya sapaku
Pada masa matahari bersama altar lazuardi melaju,
Menyentuh di atas garis-garis cakrawala semu
Di senja kelabu itu.

Langit,
Padanya hatiku terpekur merindu.



Sunday, 3 March 2013

Selamat Jalan, Anselina Dwi Faerita Zai :)


"You don't need to understand to obey God's way. Just believe Him and enjoy His way in your life..."
Baru saja beberapa hari yang lalu saya mengepos tentang sahabat saya ini di sini.

Namanya Anselina Dwi Faerita Zai. Biasa dipanggil Senzy. Seorang sahabat, kawan, dan teman saya yang tidak bisa dibilang tidak sempurna. Setiap anak di sekolah saya pasti mengenalnya. Apalagi guru-guru dan karyawannya. Seribu prestasi dicapainya. Segudang ekskul dijejalkannya. Tubuhnya adalah otak, jiwanya adalah hati. Waktu tidak pernah disia-siakannya sedikit pun juga. Segalanya imbang dalam dirinya... Antara kehidupan, waktu yang ia gunakan, iman, ilmu, dan akhiratnya.

Coret-coretan Fisika yang ia buat untuk saya, masih saya simpan :)
Ia sangat cerdas. Siapa pun yang pernah diajari oleh Senzy tentang pelajaran pasti akan berkata, "Enak sekali cara mengajarinya, mengalahkan guru siapa pun di sekolah." Ia sangat suka belajar. Ia juga aktif berorganisasi. Menjadi salah satu orang yang penting dalam tiap organisasi yang ia ikuti. Ia tidak pernah membeda-bedakan teman. Ia sangat menyayangi teman-temannya dan membuat kami semua nyaman dan bahagia saat bersamanya. Tak pernah sekali pun ia melukai hati orang lain.

Dia adalah sahabat yang saya cari selama ini. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah saya miliki.

Senzy adalah seorang yang sangat hebat keimanannya. Belum pernah sebelumnya, saya bertemu dengan seseorang seperti dia. Apa pun halangannya, ia akan menerjang segalanya untuk memenuhi kewajibannya. Ia adalah perempuan yang bertanggung jawab dan tidak main-main dalam kewajiban.

Meski kami berbeda agama, itu tidak pernah menjadi persoalan bagi kami. Saya dan Senzy pun sering bertukar pikiran tentang Al-Qur'an dan Alkitab. Namun, ia tidak pernah menjadikan jalan keimanan saya berubah. Kami sama-sama saling menghormati agama masing-masing. Ia adalah tipikal orang yang tidak senang melihat orang lain menunda ibadahnya, apa pun agamanya. Saya masih ingat betul, apabila saya menunda waktu shalat, dia akan menasihati saya panjang lebar. Dan dia akan ngotot menemani saya shalat sampai selesai. Karenanya, ia menguatkan imanku pada Allah.

Namun, waktu untuk bersama-sama dengannya di dunia ini, tidaklah lama. Sangat pendek. Karena ia mendahului saya menemui-Nya...

Kira-kira tiga minggu yang lalu, Senzy sakit. Awalnya, ia tidak mau mengakui karena takut saya akan "bla bla bla" dan khawatir padanya. Setelah saya desak, ia bercerita bahwa terdapat pembengkakan kelenjar limfa pada leher belakangnya. Saya sangat kaget. Namun ia menenangkan saya bahwa itu tidak apa-apa. Saya tahu Senzy menyembunyikan rasa sakitnya itu.

Dua minggu kemudian, tepatnya tanggal 23-27 Februari, ia sakit dan tidak masuk sekolah. Saya selalu menanyakan kabar dan khawatir terhadapnya. Ia hanya berkata, "Aku nggak kenapa-kenapa Rakyan, kamu tenang aja." Bagaimana bisa saya tenang? Saya ingin menjenguknya bersama teman-teman, namun harus menunggu waktu yang lainnya.

Alhamdulillah, tanggal 28 Februari ia sudah lumayan sehat dan memaksakan diri untuk berangkat sekolah, meski menahan rasa sakit akibat asam lambungnya yang melonjak drastis. Saat ia memasuki kelas, kami bertepuk tangan dan iseng menyanyikan lagu Happy Birthday sebagai ucapan selamat datang. Mukanya terlihat memerah malu dan bahagia. Dia duduk di depan saya, dan saya menyalaminya, "Welcome back to our class, Senzy!"

Hari itu adalah hari terindah bagi kami. Saat pelajaran Matematika, saya duduk dengannya. Saya berjanji mengajari materi-materi yang tertinggal padanya saat ia sakit. Wajahnya begitu damai, namun air mukanya tetap pucat dan bibirnya sedikit biru.

"Kamu masih sakit ya Senz?"
"Ah, enggak kok, Rakyan, aku sehat-sehat aja. Nih buktinya aku udah berangkat sekolah dan ngerjain Matematika sama kamu."
"Bibirmu kebiruan, Senzy. Jangan bohong."
"Enggak, Rakyan. Aku sehat-sehat aja."

Terpaksa saya mempercayainya. Saya sangat menghargai usahanya untuk tidak membuat orang lain sedih. Saat pelajaran terakhir, ada pementasan drama (yang membuat Senzy memaksakan diri berangkat sekolah). Ia terlihat hebat seperti biasanya. Peran gandanya mendapat pujian setiap warga kelas dan Mr. Ari, guru Bahasa Inggris kami. Saya begitu bangga dengannya.

Esoknya, Jum'at 1 Maret, ia terlihat semakin sehat. Saat itu pelajaran Penjasorkes.

"Rakyan, ayo kita main bulu tangkis. Aku udah lama nggak olah raga. Kangen."
"Haha, iya Senzy. Aku juga. Ayo."

Ia semangat sekali bermain bulu tangkis. Setelah itu permainan basket. Kami bermain bersama namun tidak sampai selesai, karena Senzy ada latihan paduan suara.

"Senzy, apa kamu nanti ulangan Kimianya susulan?"
"Enggak, Raky, aku tetep ulangan Kimia nanti. Kamu duluan aja."
"Semangat ya, Senz."
"Makasih banyak, Raky."

Saya bangga sekali dengannya. Senzy, yang sudah berkali-kali tidak hadir dalam pelajaran Kimia karena sakit, namun ia berhasil mendapatkan nilai tuntas.

Esoknya, ia tidak berangkat. Padahal hari itu, 2 Maret adalah ulang tahunnya ke 18. Kami sekelas begitu khawatir. Setelah saya mengucapkan selamat ulang tahun padanya lewat sms, Papanya yang membalas.

"Pagi nak, ini Papanya Senzy, maaf mengganggu. Tolong sampaikan ke wali kelas kalau hari ini Senzy tidak dapat ke sekolah karena sakit. Dari tadi malam opname di RS Bhayangkara. Surat keterangannya menyusul, nak. Terima kasih."

Sontak saya terkejut, dan membaca sms tersebut keras-keras. Saat itu kebetulan pelajaran Fisika oleh wali kelas. Teman-teman memandang saya dengan rasa terkejut. Karena hari itu hari ulang tahunnya Senzy... Semua bersedih. Akhirnya, kami sekelas sepakat membelikan kue ulang tahun, buah, boneka dan kalung salib untuknya serta menengoknya hari itu juga sekitar jam setengah dua siang.

Sesampainya di sana, kami terkejut. Semua menangis tak tertahankan. Keadaan Senzy begitu kritis, tubuhnya bengkak-bengkak membiru disertai kejang. Ia juga tak dapat mengingat siapa pun di ruangan itu. Termasuk Mama dan Papanya. Satu per satu kami menyalami Senzy.

"Nak, ini teman-temanmu Nak. Hari ini kamu ulang tahun, jangan sakit, harus semangat Nak," ucap Mamanya sambil membantu Senzy menerima uluran tanganku.
"Senzy... Aku tau kamu perempuan yang kuat, tegar. Selamat ulang tahun, Senzy. Semoga cepat sembuh. Kamu kuat, Senz. Aku selalu percaya itu," ujarku sambil berurai air mata. Senzy menatapku kosong, namun seolah menyimpan sesuatu dan ingin mengatakannya padaku. Ia bertanya-tanya dalam kerlingan bola matanya.

Hujan menjadi saksi.

Setelah itu, Senzy kejang dan meronta sampai sore. Akhirnya, malam itu Senzy dipindahkan ke ICU RS Harjolukito. Saya berharap dan berdoa agar ia mendapatkan perawatan yang lebih baik. Malam itu, saya bersama Mbak Anna dan lainnya berjalan-jalan di toko buku. Saya ingin memberikan kamus Inggris-Indonesia oleh John M. Echols yang hardcover, mengingat kamusnya yang sama telah robek-robek. Namun saya menundanya, "Besok setelah menengok Senzy bersama guru-guru, aku mau beli ini buat Senzy. Aku janji ngasih kado ini setelah dia sembuh."

Sayangnya... Tuhan berkehendak lain...

Fajar hari 3 Maret, Mas Soniel Zai atau biasa dipanggil Mas Soni mengirim sms ke saya,
"Dhek, ini abangnya Senzy, mau ngasih kabar kalau Senzynya sudah berpulang pagi ini..."

Pembuluh darah di otaknya pecah.

Seketika itu, tubuh saya lemas dan menangis sekeras-kerasnya. Senzy belum sempat kuberikan kamus itu. Senzy belum sempat mencicipi kue ulang tahun dan buah-buahan untuknya. Senzy belum sempat membuka hadiah boneka dan kalung salib dari kami semua...

Pesarean sahabat saya, Senzy.

Senzy sudah berpulang. Senzy sudah kembali pada-Nya. Senzy sudah mendahului saya bertemu dengan Sang Khalik.

Saat saya, semua teman dan guru-guru melayat, kami memandang jenazah almarhuman Senzy di peti dengan haru penuh kesedihan. Saya tidak dapat berhenti menangis. Wajah Senzy terlihat begitu cantik namun menahan rasa sakit yang terlepas. Wajah yang selalu kukenang dan kurindukan.

Saya mengantar sampai pemakamannya selesai. Begitu rindu melihatnya sehat lagi. Begitu rindu untuk bertemu dengannya. Mendengar nasihatnya, mendengar suaranya. Melihat senyumnya, tanpa rasa sakit yang tertahan.

Hujan turun lagi. Menjadi saksi kembali.

Dengan keluarga :')

Senzy, saya ikhlas kamu telah mendahuluiku untuk menemui-Nya. Terkadang saya begitu ingin bersama-sama denganmu lagi. Karena rindu ini tak bisa padam selamanya.

Terkadang air mataku menetes perlahan saat mengenang segala tentangmu. Karena hanya kamu, Senz, satu-satunya sahabat yang menghidupkan semangatku.
 

Terkadang saya ingin memanggilmu dan mendengar suaramu. Karena dari Senzy-lah saya mendengar kata-kata dan nasihat yang indah, meski saat kamu berjuang melawan sakit.

Anselina Dwi Faerita Zai. Sahabat yang selalu hidup dalam hati ini. Foto diambil dari upload-annya Mas Soni, di sini :)

Saya begitu bersyukur bisa bersahabat denganmu, Senzy. Kau mengajarkan padaku tentang arti kehidupan, waktu, iman, dan ilmu. Kau abadi di hatiku, Senz. Selamanya jadi permata indah dalam jiwaku. Terima kasih, Anselina Zai...

Selamat jalan :)

"...and you'll see how great He works on you and He never make you disappoint."